Juventus menjamu Galatasaray di Allianz Stadium, Turin, dalam laga penentuan playoff 16 besar Liga Champions. Tuan rumah datang dengan misi berat setelah kalah 2-5 pada leg pertama. Meski begitu, Juventus sempat membangkitkan harapan lewat gol penalti Manuel Locatelli pada menit ke-37.

Situasi semakin menegangkan ketika Juventus harus bermain dengan 10 pemain setelah Lloyd Kelly keluar pada awal babak kedua. Namun secara mengejutkan, Federico Gatti dan Weston McKennie mampu mencetak gol tambahan yang menyamakan agregat menjadi 5-5. Stadion pun bergemuruh karena peluang lolos kembali terbuka.
Sayangnya, kelelahan mulai terlihat di kubu Juventus. Dalam kondisi unggul jumlah pemain, Galatasaray memanfaatkan situasi dengan baik. Dua gol balasan memastikan wakil Turki itu menang agregat 7-5 dan melangkah ke babak berikutnya.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Gol Penentu Victor Osimhen
Salah satu gol krusial dicetak oleh Victor Osimhen. Striker asal Nigeria itu menjadi penentu kemenangan timnya pada momen penting pertandingan. Namun yang menarik perhatian bukan hanya golnya, melainkan reaksinya setelah mencetak gol tersebut.
Osimhen memilih tidak melakukan selebrasi seperti biasanya. Padahal gol itu sangat berarti karena memastikan Galatasaray lolos ke babak 16 besar. Banyak pihak bertanya-tanya mengapa ia tidak menunjukkan ekspresi kegembiraan yang berlebihan.
Keputusan tersebut semakin menjadi sorotan karena Osimhen sedang dikaitkan dengan kemungkinan transfer ke Juventus pada musim panas mendatang. Namun, ia segera memberikan penjelasan yang menegaskan bahwa alasannya bukan soal rumor transfer.
Baca Juga: PSG Kembali Didatangi Juru Sita Mbappe Soal Sisa 2 Juta Euro
Rasa Hormat kepada Spalletti

Osimhen mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama dirinya tidak merayakan gol adalah rasa hormat kepada Luciano Spalletti. Pelatih Juventus itu pernah bekerja sama dengannya saat di Napoli dan memiliki peran besar dalam perkembangan kariernya.
Menurut Osimhen, Spalletti adalah sosok yang ia kagumi dan hormati. Ia merasa tidak pantas melakukan selebrasi berlebihan di hadapan mantan pelatih yang berjasa dalam perjalanan profesionalnya. Bagi Osimhen, penghormatan tersebut lebih penting daripada sekadar ekspresi emosional sesaat.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya bukan tipe pemain yang menyembunyikan emosi. Jika memang ingin merayakan, ia akan melakukannya. Namun dalam situasi ini, ia merasa keputusan untuk menahan diri adalah pilihan yang tepat.
Kritik untuk Performa Tim
Selain faktor penghormatan, Osimhen juga mengakui bahwa ia tidak sepenuhnya puas dengan permainan timnya. Menurutnya, Galatasaray tidak tampil maksimal meski menghadapi lawan yang bermain dengan 10 orang.
Ia menilai timnya seharusnya bisa mengontrol pertandingan dengan lebih baik. Kemenangan memang diraih, tetapi performa di lapangan masih menyisakan catatan penting untuk diperbaiki. Sikap kritis ini menunjukkan standar tinggi yang ia miliki sebagai pemain profesional.
Dengan kelolosan ke babak 16 besar, Galatasaray tetap membawa pulang hasil positif. Namun bagi Osimhen, sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan juga tentang sikap, rasa hormat, dan tanggung jawab terhadap performa tim. Nantikan terus kabar terbaru seputar sepak bola menarik lainnya hanya di football4america.com.
